Ketika Cinta Menjadi Benci

Cinta, cemburu, marah, dan benci, apa pun orientasi seksualnya, merupakan perilaku yang dihasilkan otak sosial manusia. Otak sosial ini merupakan kombinasi dari kemampuan pikir atau logika yang berpusat di korteks (lapisan terluar) otak serta pengelolaan emosi yang berpusat di sistem limbik.

Munculnya cinta di otak jauh lebih kompleks dibanding perasaan yang lain karena melibatkan lebih banyak komponen otak, hormon, dan zat kimia otak (neurotransmitter).

Helen Fisher penulis The Drive to Love: The Neural Mechanism for Mate Selection dalam buku The New Psychology of Love, 2008, menyebut cinta muncul dalam tiga tahapan berbeda di otak, mulai dari dorongan seksual, ketertarikan, dan keterikatan. Setiap tahapan melibatkan hormon, neurotransmitter, dan bagian otak berbeda.

Keterikatan mendorong otak memproduksi hormon oksitosin. Hormon ini membawa rasa keterikatan di antara dua orang yang saling mencinta hingga lahir rasa senang dan bahagia. Saat cinta berkurang dan muncul benci, produksi oksitosin berkurang.

”Otak tak dapat ditipu dengan cinta pura-pura,” kata Sekretaris Jenderal Masyarakat Neurosains Indonesia (INS) yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Taufiq Pasiak, Sabtu (9/3).

Rasa peduli yang ditunjukkan seseorang kepada pasangan karena barang-barang mahal yang diberikan, tak bisa merangsang otak memproduksi oksitosin.

Cemburu, menurut Christine R Harris dalam The Evolution of Jealously pada American Scientist Volume 92 Nomor 1, 2004, adalah emosi negatif yang muncul saat hubungan seseorang dengan orang lain yang spesial terancam oleh adanya pesaing lain. Cemburu menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di luar kecelakaan.

Meski cemburu adalah emosi bawaan, ekspresi pada setiap orang berbeda sesuai dengan kemampuan sosial kognitif dan tumbuh kembangnya. Inilah yang membuat cemburu yang tidak wajar (morbid jealousy) tidak membedakan jenis kelamin yang merasakan.

Menurut Taufiq, cinta tidak bisa berubah seketika menjadi benci. Untuk muncul benci, harus ada stimulus berkelanjutan yang mengikis rasa cinta.

Benci dapat muncul karena cemburu, amarah, atau bosan. Cemburu merupakan basis munculnya benci yang paling berbahaya. Cemburu yang tidak wajar berbeda jauh sifatnya dengan cemburu yang sering dianggap sebagai bumbu sebuah hubungan. ”Cemburu paling berbahaya karena bisa membuat seseorang dikontrol oleh emosinya, bukan logikanya,” ujarnya.

Pertahanan diri

Dasar cinta adalah memberi rasa tenang dan bahagia. Jika rasa itu terancam, seperti hadirnya cemburu atau rasa dikhianati karena diselingkuhi, maka otak dengan cepat membentuk sistem pertahanan diri untuk menjaga rasa tenang dan bahagia tetap ada. Respons pertahanan diri itu berupa bertarung menghadapi ancaman (fight) atau melarikan diri (flight).

Saat sistem pertahanan diri terbentuk, hormon kortisol sebagai penanda stres diproduksi. Energi dalam diri pun terpusat hingga tubuh siap melakukan tindakan fisik, baik itu memukul maupun berlari.

Ketika energi terpusat, seseorang bisa melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan dalam kondisi normal, seperti melompati tembok tinggi hingga membunuh orang dengan sadis.

”Respons bertarung ini merupakan respons binatang yang masih ada dalam diri manusia ketika berevolusi,” katanya.

Namun, cara bertarung tidak selalu mewujud dalam tindakan kasar. Perilaku kekerasan, seperti memukul, menendang, hingga membunuh biasanya ditunjukkan oleh mereka yang logikanya tidak terbentuk alias tidak terdidik baik. Jika logika berjalan, yang muncul adalah kata-kata makian hingga pengusiran.

Peneliti Pusat Kesehatan Mental Masyarakat, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Rahmat Hidayat, mengatakan, ketika cinta begitu posesif hingga tak mampu membedakan antara diri sendiri dan orang lain, maka rasa kehilangan yang muncul akan menjadi akut.

Ketakutan akut inilah yang mendorong muncul kekejian karena tindakan yang diambil hanya didasarkan atas pilihan menghilangkan atau kehilangan.

Kekejian tindakan yang dilakukan seseorang sangat bergantung pada kematangan kontrol diri. Seseorang yang emosinya matang jika marah tidak akan bersikap seperti anak-anak, seperti membanting benda-benda di sekitarnya. Mental pelaku mutilasi yang umumnya belum berkembang membuat mereka mudah membunuh, bahkan memotong tubuh orang yang pernah dicintai.

”Berubahnya tatanan kehidupan membuat banyak anak terlambat mengalami kematangan psikologis. Pada saat bersamaan, kematangan seksual justru terjadi lebih cepat,” katanya.

Psikiater dan Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa, Pandu Setiawanmengatakan, pola pertahanan diri tiap orang sangat bergantung pada pola asuh dan tumbuh kembang sejak kecil. Selain faktor biologis dan psikologis, kematangan jiwa juga ditentukan oleh kondisi sosial.

Perilaku pelaku mutilasi yang menyimpang dari norma sekitarnya umumnya sudah terdeteksi. Namun, masyarakat sekitarnya umumnya tidak peduli karena menganggap bukan urusan mereka.

Selain itu, pelaku bisa melakukan tindakannya karena ada model. Inilah yang membuat tayangan kekerasan perlu dibatasi agar tak justru mendorong seseorang berbuat keji.

Mereka yang menunjukkan respons bukan dengan kekerasan, kata Taufiq, bukan berarti lemah. Orang itu justru mampu memperhitungkan untung rugi, benar salah, konsekuensi hukum, hingga penghormatan atas moral dan nilai.

”Sayangnya, anak Indonesia tidak dididik membuat keputusan berdasar logika. Keputusan yang diambil lebih banyak didasarkan atas naluri,” ujarnya. Inilah yang membuat kasus-kasus mutilasi di Indonesia lebih mudah terungkap dibanding kasus serupa di luar negeri.

sumber : www.kompas.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »